Lompat ke isi

Diam di Pengasingan

2010/02/27

Betapa tidak mudah untuk mempertahankan prinsip yang kita yakini kebenarannya, betapa beresiko bertahan di tengah lingkungan yang cenderung memprovokasi prinsip dan moral yang begitu kita andalkan menjadi tameng pelindung keimanan. Tak banyak yang bisa diperbuat selain diam dan bertingkah secukupnya, namun itu semua tak mampu merangsang hati dan pola berpikir mereka untuk sedikit mengerti. Tak pernahkah terlintas pesan di benak mereka, “Apa dan Kenapa” seperti itu dan ini ? Yang ada hanya tindakan dan vonis moral yang tak beralasan.

Acap kali forum terbuka digelar dengan harapan menjadi cikal bakal toleransi kepribadian, alasan kesunyian yang kupilih kala berada di tengah hingar bingar lisan dan pergaulan di antara kalian telah aku sampaikan panjang lebar. Namun masih saja tercipta nuansa kengerian yang semakin dalam. Salahkah jika aku memilih diam dari perkataan yang terdengar gunjingan dan makian. Beralih keluar dari perbincangan yang tak masuk akal dan penuh kemubadziran, berkomentar sekenanya setiap yang menarik perhatian pada setiap tontonan acara televisi yang mengumbar birahi dan pelecehan yang dibumbui lawakan. Salahkah kawan…?

Walaupun belum sempurna dalam pengamalan, aku akan bertahan dengan apa yang aku imani kebenarannya. Meski terasingkan aku tak akan lelah dalam diam, sekalipun sombong, angkuh, sok suci dan berbagai gelar akan kau sandangkan, insya Allah secuilpun aku tak akan gentar. Menjadi seorang muslim tidaklah mudah, kita harus siap dicaci, diasingkan bahkan dikucilkan lantaran kita berbeda karena memilih jalan yang sulit untuk konsisten di jalan-Nya. Ingatlah kawan, Allah Azza wa Jalla berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa : 36]

“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya” [Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti-Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 49, sumber almanhaj.or.id]

Rasulullah pernah mengingatkan untuk berhati-hati menjaga lisan. Karena lisan jauh lebih tajam dibandingkan pedang. Luka karena pedang dapat disembuhkan dengan pengobatan. Sedangkan luka karena lisan akan terus terkenang.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”[Shahih Muslim hadits no. 2589]

Ya Allah jadikanlah diam-ku membuatku semakin dekat kepadaMu. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan agar selalu berkata baik.
Wallahu a’lam.

-IP-

2 Komentar leave one →
  1. 2010/02/27 1:05 am

    Blog keren mas.
    buwat refensi lihat juga di http://17hari.wordpress.com

  2. 2011/07/19 7:53 pm

    Setuju. hati2 pula memandang perbedaan… en jangan merasa paling bener sendiri walau kita punya prinsip yang berbeda :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.