Langsung ke isi

Jakarta dan Harapan (bag.1)

2010/01/06

Jakarta, akan begitu tebal lembaran-lembaran kertas untuk bercerita tentang jakarta, banyak hal menakjubkan disini, megahnya gedung dan tata kota, peluang sampai lifestyle dengan berbagai corak dan tipe ada disini, dan selalu mengalami penyegaran seiiring sajian televisi dan informasi yang tak lagi ramah. Tapi bukan unsur-unsur gemerlap yang ingin diulas, bukan pula kabar-kabari seputar keglamoran gaya hidup kaum bangsawan kota yang saat ini marak digembar-gemborkan di berbagai media baik cetak maupun televisi, baik berupa cerita, film atau sinetron. Disadari atau tidak, sajian semacam ini telah berhasil merangsang banyak orang untuk bekerja keras dalam harapan yang terlampau berlebihan, apapun dilakukan demi mengikuti tren yang kadang jauh dari budaya kita dengan dalih kesenangan dan kemajuan zaman. Maka jangan heran jika banyak kebejatan moral kaum remaja di negeri ini tumbuh dengan suburnya, anehnya sebagian dari orang tua mereka tahu dan seolah memberi jalan. Di zaman dan di negeri ini khususnya jika seorang gadis atau pemuda tidak pacaran maka orang tua akan gelisah dan berprasangka yang bukan-bukan kepada anaknya, mulailah para bapak ibu mereka mencarikan pacar untuk putra-putrinya seperti yang sering dicontohkan di acara-acara film televisi, ini sama saja dengan menyuruh anak-anak kita untuk melakukan perilaku amoral. Sayangnya paham seperti ini banyak diangkat, disorot, dipopulerkan, ditayangkan, diopinikan bahkan dijadikan suatu agenda pengkaburan nilai-nilai luhur. Itulah sebutir dari gunungan pasir kerusakan yang telah terjadi di negeri ini. Namun dibalik kelamnya Jakarta ada sisi-sisi menarik tentang kisah-kisah kesuksesan, perjuangan dan kerja keras orang-orang yang memiliki asa dan cita untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, disini di Jakarta semua itu berawal.

Tidak dipungkiri banyak potensi keberhasilan yang ditawarkan di sini, ada yang menuju kesuksesan itu dengan berdagang terlepas apakah itu pedagang besar atau pedagang modal pas-pasan. Banyak juga yang bermain aman dengan menjadi pegawai atau karyawan baik di pemerintahan, BUMN atau swasta dan tentunya PNS. Hanya saja untuk jalur yang satu ini banyak syarat yang harus dipenuhi, apalagi kalau bukan strata pendidikan yang menjadi syarat mutlak, sayangnya pendidikan di negeri ini sangat tidak bersahabat dengan sebagian besar rakyatnya, tingginya biaya bagaikan disengat seribu lebah. Meskipun juga tersedia bantuan dari pemerintah yang tak seberapa dan hanya terbatas di tingkat-tingkat dasar, tetap saja menjadi manusia terdidik di negeri ini masih menjadi barang mewah bahkan bisa jadi mimpi bagi masyarakat yang termaginalkan di negeri sendiri.

Betapa payah perjuangan untuk menjadi pintar, kecerdasan tidak lagi dipandang sebagai aset pendidikan jika tidak bermodal, dan betapa tidak berarti semangat dan kemauan tanpa adanya kesempatan. Sedikit gambaran tentang nasib seorang sahabat yang berusaha maju ditengah himpitan dan ujian yang semakin kuat dan tak kunjung berakhir. Dialah  “Adam” salah seorang kawan lama yang berjuang untuk keluarganya, untuk sekolahnya dan untuk hidupnya. Berikut sepenggal kisahnya..

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.