Memilih
Hasrat silam yang tergeletak diam di dasar hati, perlahan mencercah tenang ke permukaan. Dengan baik asa itu menggugat demi sepetak lahan di alam berpikirku. Tak aku abaikan waktu yang terus berkunjung tanpa menimbang hikmat apa yag hendak aku putuskan tentang perkara ini.
Posisi yang tak cukup strategis selayaknya mampu mengurungkan niatku, atau setidaknya mencoba menjejakkan selangkah kaki kebelakang lalu diam sejenak, berpikir kembali dan merenungkan dengan seksama tentang apa yang sebenarnya hendak aku perbuat. Apakah aku sadar betul akan jalan yang akan aku lewati, sebuah jalan penuh kelok dan tikungan tajam yang dipermukaannya bertabur kerikil dan duri. Jalan yang tak banyak dipilih para pejalan, jalur yang mungkin banyak dihindari para pengendara karena tikungannya yang teramat curam untuk ditempuh. Namun aku yakin bahwa “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)
Dengan langkah yang kuat penuh kemantapan, akhirnya pada pertengahan mei yang lalu menjadi waktu yang aku anggap tepat untuk mulai mewujudkan impian itu, di tempat inilah aku sandarkan harapan dan bekal yang akan aku bawa nanti, bekal yang dengan izin-Nya bisa meneguhkan tekad dan menambah semangat.
Tak ada luang yang kusiakan selain untuk memperbaiki pemahaman, ku siapkan diri dengan materi, dan telah aku sisihkan sedikit demi sedikit rupiah untuk upah tiap bekal yang akan aku dapatkan. Hingga Juli menjelang aku tetap gigih dengan semangat yang kuat menyambut hari pertama pelajaran. Namun kobaran semangat itu seketika hampir padam, kegigihan itu perlahan tanggal, keputus asaan hampir menerpa perasaan.
Saat suara cemas melantun tegas dari telpon yang aku terima, suara itu bercerita tentang kepedihannya dengan penuh terisak yang sesekali coba aku redakan, namun tetap tak sanggup menenangkannya. Apa yang aku dengar masih sulit aku yakini kebenarannya, kabar itu seolah buldoser yang seketika merobohkan pilar pilar pondasi yang telah dirancang kokoh.
Dengan terburu aku mohon undur diri kepada dosen saat itu, aku bergegas menuju ruang dosen berikutnya untuk menyerahkan tugas kuliah sabtu lalu. Segera aku pusatkan kembali perhatianku pada kabar yang beberapa saat lalu aku terima, namun masih saja tak bisa kupercaya. Dengan tergesa gesa aku menghampiri satu persatu kawan yang kuharap bisa memberikan uluran, namun tak ada harapan. Simpanan semester depan serta rupiah yang kusisihkan untuk mewujudkan impian itupun, masih tak cukup untuk aku serahkan…
Peristiwa itu membuka mataku akan suatu pesan, dan sejak saat itu aku mulai menata kembali rencana yang telah kususun, aku pilah lagi mana yang masih mungkin bisa kuwujudkan. Tak mengapa jika aku harus cuti entah untuk berapa waktu kedepan, atau mengurungkan impian yang hampir aku wujudkan. Mungkin Allah hendak bertanya pada diriku, kepada apa pilihan yang akan aku dahulukan. Ya Allah jadikanlah peristiwa ini penuh hikmah yang bisa membuatku semakin dekat kepadaMu.
seolah bilik kesadaranku terbelak waktu yang bergulir cepat,
peristiwa dini beranjak silam..
mengusung ketegasan sebuah tantangan.
Tak harus sekarang namun hati terburu bimbang menoreh sebuah pilihan
Haruskah ku-teruskan ataukah beralih harapan ?
Seberkas nurani merajuk asa membimbing parau hati
merayu diri mengayun dihujung pertiga jalan
saat hati tak kunjung reda, kupanjatkan tutur lirih kepadaNya
lugas mengaduh penat yang mengisak tegasYa Allah jika ini isyarat darimu..
maka kuatkanlah tekadku, mantabkan hati dan pikiranku..
dengan ridho-Mu ya..Allah, akan ku lantangkan takbir-Mu
melanjutkan semangat para tauladankuYa Allah..Ampunilah aku
-IP-

setiap pilihan selalu ada konsekuensinya…. mudah2an memilih pilihan yang tepat ya….
semangat!!!
benci memilih …
=(
Ayo tentukan pilihan
aku memilih punya rumah yang seperti mimpiku…
salam
tukeran link mau kah?
keputusan yang kamu ambil insyaallah benar..kamu mendahulukan prioritas orang banyak di banding hak pribadi sendiri.dan semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam segala keputusan yamg akan kamu ambil. dan mungkin ini adalah salah satu penyemangat jiwa ketika hati sdg kufur..
ya Allah ajarilah kami untuk terus bersyukur, bahkan sampai diri kami ini dalam keadaan paling teraniaya. ajarilah kami agar terus menjadi orang baik, bahkan ketika dunia tak sanggup lagi tersenyum,ajari kami ya Allah agar selalu tertawa setelah menangis, agar bisa selalu bangkitsetelah terjatuh, agar bisa terus berjalan walau aral melintang didepan sana ..agar tidak menyerah walau hampir matisekalipun..ajari kami agar tidak kehilangan cinta, keyakinan, bahwa masih ada hal baik di dunia yang masih patut diperjuangkan..
mudahan pilihannya bener .
amiin
haddiirrr… salam kenal yach
ketika langkah dipersimpangan jalan, ada beberapa pilihan yang membingungkan. Engkau tinggal menghadap pada-Nya, memohon petunjuk, jalan mana yang terbaik menurut-Nya.
ok
terus terang aku ga terlalu yakin ttg permasalahan yg km hadapi, tapi kl cuma masalah ekonomi en kuliah, aku juga pernah mengalaminya dulu.
hehhee… en alhamdulillah… aku bisa melewatinya dengan sukses.
Keep the fight yach
cu….
Assalamu’alaikum…
S.E.M.A.N.G.A.T akhi….
Smoga Allah meridhoi pilihan antum..
SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG
SEMANGAAAAAAAT YAAAA
udah dipasang linknya…
—
koq lum update?
haddiirr….
update nya mannaaa…???
hehehe..
cu…
Karna hidup adalah pilihan
tetap semangat (,”)
ehm……..sayang semangat yach……